Jumat, 18 Juni 2010

ORISINALITAS D.I.Y YANG SEMAKIN RANCU

Awal keresahan
Term D.I.Y ( do it yourself ) dipopulerkan sejak tahun 90, bermula dari geliat keresahan anak muda Bandung yang mulai risih dengan berbagai macam penolakan industri musik mainstream yang tidak bisa menerima kontemporasi musik yang mereka usung, jengah dengan berbagai deskriditas media yang menganggap mereka nyeleneh serta memicingkan mata sambil menyeringai dan menyepelekan.
A little bit urban creativity founder ( Helvi )
Helvi adalah founder dan owner records independent ternama ( FFWD & FF CUTS ) yang aktif memproduksi band band multiprestasi seperti Mocca,Homogenic,Teenage Death Star, juga sebagai gitaris garage roll punk slebor anti zaman Teenage Death Star, founder dan owner dari Airplane Clothing dan Eleven Clothing, produser dari acara SubStereo yang kini merupakan acara dengan rating tertinggi di radio Oz Bandung, Cover Designer Burgerkill,Wong,Pas Band,Netral dan Nudist Island. Sutradara dari videoklip Pas Band,Cokelat dan Rocket Rockers. Mungkin akan menjadi suatu makalah bila harus membahas semua kontribusi Helvi dalam mencerdaskan subsersiv dunia independent yang kini ternyata semakin ambigu.
Helvi jeli menangkap geliat dan riak anak muda Bandung yang sangat produktif namun belum ada yang bisa mewadahi dan memfasilitasi mereka, maka terciptalah Reverse yang bertempat di Jalan Suka Senang sebagai embrio awal dari cikal bakal komunitas yang kini telah menjadi masif dan sell-out.
Reverse berperan ganda selain sebagai sebuah studio yang sangat kooperatif dalam men support band lokal yang ingin rekaman atau membuat demo, di studio ini lah tercipta beberapa album pertama dari Homicide,Pure Saturday,Runtah,Jasad,Soni
c Torment,CloseMinded,Fable dan banyak lagi, namun Reverse juga berperan sebagai toko clothing yang menjual beberapa merchandise band lokal yang sangat membantu finansial band itu sendiri, maka inilah pick up point pertama dimana term “ Do It Yourself “ berawal, Helvi mulai memperkenalkan sistem independent ( mandiri ) yang berarti mengerjakan segala sesuatu sendiri, seperti produksi album,mixing album,packaging album,distribusi album sampai promosi album dilakukan oleh sendiri, jika ada kontribusi dari berbagai pihak maka tidak lain adalah intern band itu sendiri, Helvi sendiri hanya membantu dalam hal distribusi selaku owner dari FFWD dan FF CUTS.
Helvi secara tidak langsung telah mempopulerkan istilah independent yang jika diartikan secara harafiah adalah mandiri,bekerja sendiri,merdeka dan tidak terkekang, bila di ambil dari historikal scene yang terbentuk pada awal tahun 90 maka independent adalah “ bentuk pergerakan sekelompok orang terhadap media mainstream yang menolak dan mendiskriditkan karya mereka”, pergerakan itu sendiri berupa sistem swadaya kooperasi dengan memanfaatkan pertemanan, sistem penyebarannya pun masih konservatif berupa flyer,zines,jurnal local dan mouth to mouth, distribusi informasi sangat mengandalkan sumber daya koneksi dan relasi.
Berbagai Newsletters dan zines seperti 13 Zines (Arian 13),Submissive Riot( Pam Runtah ) dan Brainwashed seakan menjadi central point informasi di kala itu, untuk menjalin pertemanan menjaring relasi dan pengorganisasian scene. Represi pemerintah membuat founder dari scene ini harus memutar otak 7 kali agar tetap bertahan dan tidak musnah diberangus stabilitas orde baru, Barisan depan gardan pedas diisi oleh Homicide,Puppen,Runtah dan Jeruji yang produktif memerdekakan karya mereka dari tekanan pemerintah, movement yang mereka lakukan kerap membuat pemerintah seperti kebakaran jenggot dan berlari tunggang langgang untuk menutupi fakta yang ada.
Selain Helvi maka hadir pula seorang Dadan Ketu tokoh yang paling bertanggung jawab dibalik pergerakan Punk/Hc Bandung, Owner & founder sebuah legend rock shop bernama RIOTIC, musisi gelisah dari band Kontaminasi Kapitalis bersama Pam Runtah.
Dadan adalah seseorang yang selalu geram dan resah, apalagi jika melihat band dengan kualitas seperti Puppen, Blind To See ataupun Runtah tidak ada yang merilisnya, mengutip track ill shurekshun dari Homicide “ Hari ini atau tidak sama sekali “ maka Dadan pun tidak ada pilihan lain selain mendirikan indie Label bernama Riotic Records dengan beberapa rilisan pertama dari band yang banyak dicari oleh pemerintah pada saat itu seperti Blind To See,Homicide,Runtah ataupun berbagai kompilasi berbahaya seperti “ Bandung’s Burning “ ( punk compilation) with : Keparat,Turtle jr,Runtah,Jeruji, “ Strike Hard “ ( Hardcore Compilation ) with : Balcony,Blind To See dan juga “ Brain Beverages “ with : Homicide,Balcony. Dadan juga adalah orang yang paling bertanggug jawab dengan riuh semaraknya Gor Saparua pada tahun 90, Gorong-gorong 1&2, Punk Rock Party 1&2 adalah event masterpiece dari seorang Dadan Ketu, Saparua pun selau berdetak dan berdenyut dibuatnya, Saparua adalah arena melepas resah anak muda Bandung, rutinitas setiap minggu dengan hadir di Saparua moshing dan sing a long bersama adalah prestise termewah yang tidak akan tergantikan lagi, karena kini Saparua hanya kokoh berdiri namun malu untuk unjuk diri.
Live in 1990
Geliat ini mencapai puncaknya pada pertengahan tahun 90 ketika videoklip “ Kosong “ dari album pertama Pure Saturday muncul di salah satu televisi nasional, berbarengan dengan suksesnya album “ 4 through to the sap dan in (no) sensation“ dari Pas Band, garangnya anthem hardcore “ Not A Pup & MK II “ dari Puppen, berbagai rilisan album seperti dari Cherry Bombshell,Close Minded dan Sendal Jepit. Bahkan sebuah album legendaris melengkapi memori indah betapa jujurnya tahun 90 “ MasaIndahBangetSekaliPisan “ adalah everlasting release dengan partisipasi dari Puppen,Full Of Hate,Balcony,Cherry Bombshell,Rotten To The Core dan Sendal Jepit, mereka semua adalah 90’s scene heroes sebagian dari pengisi kompilasi kini hanya menjadi bagian dari sejarah, namun mereka tidak stuck begitu saja beberapa dari mereka tetap move on seperti Arian Arifin Puppen atau lebih dikenal dengan Arian 13 kini menjadi leader dari sebuah band heavy southern octane rock it called Seringai dan juga sebagai Music Editor di Trax Magazine Jakarta, sedangkan Arief Maskom Full Of Hate memilih berniaga dengan mendirikan independent store ( distro ) Ouval Research yang dia sendiri tidak percaya menjadi besar seperti saat ini.
Pada awal tahun 1996 Scene Jakarta pun seakan tidak mau kalah dengan bermunculannya rilisan album dari Tengkorak,Rotor,Sucker Head,Getah,Rumah Sakit,Pestol Aer dan Waiting Room. MTV Headbangersball muncul sebagai anti tesis dari acara mainstream seperti “ berpacu dengan melodi “ dan sejenisnya, bahkan MTV alternative nation seakan menjadi pahlawan yang memanjakan birahi anak muda yang sedang gandrung dengan segala hal berbau kumal,belel dan urakan, selayaknya anthem anti kemapanan Smells Like Teen Spirit dari album Nevermind nya Nirvana melengkapi keindahan betapa cult nya tahun 90.
Puncak sekaligus redupnya Grunge
Kemeja flannel lusuh,Converse belel,t-shirt Alice In Chains ataupun Stone Temple Pilots yang sudah mulai luntur warnanya menjadi hip style kebangaan di tahun 90, bersenandung ria dengan mendengarkan lagu smashing pumpkins era Siamese dreams sambil melirik jijik kepada siapapun yang berpakaian menor ala Guns N Roses.
Kebencian para anak muda di tahun 1990 dengan invasi Glam rock yang dipopulerkan oleh Bon Jovi,Motley Crue,Poison dan Guns N Roses yang berdandan layaknya shemale Taman Lawang membawa syal dan koteka serta legging warna warni keliling panggung ala Freddy Mercury membuat mereka muak dan muntah, Bombardir media lah yang membuat mereka tidak punya pilihan untuk memilih, maka Grunge menjadi pilihan hidup mewakili alienasi rutinitas keseharian dan kehidupan mereka, frustrasi,satir,broken home dan ironis adalah kata tengah dari grunge dan tahun 1990.
Beberapa tahun setelah almarhum Kurt Cobain meninggal dunia diadakanlah surga perhelatan kesenangan bagi anak muda Indonesia di tahun 1990 yang tidak akan pernah terulang lagi untuk selamanya. There was Jakarta Alternative Nation dengan line up Sonic Youth,Foo Fighters dan Beastie Boys berbagi panggung dengan Pas Band dan Netral, kalian bisa menyaksikan betapa hip dan solidnya nya scene pada kala itu, kalian akan tecengang dan terbius dengan nada canggung melopopdramatic Thorstoon Moore dari Sonic Youth, nyeleneh dan usilnya Bagus Netral di panggung, musisi gondrong 2 jaman Dave Grohl Foo Fighters, chaos nya Jakarta dibuat berdentam oleh shaky politic beat hop dari Beastie Boys atau gagah dan beringasnya Yuki Pas Band jauh sebelum ketika saat ini dia malah produktif membuat lagu lagu cinta pegantar tidur anak remaja, indahnya hegemoni musik dan persepsi di tahun 90 tidak akan pernah terulang lagi dan hanya akan menjadi everlasting histori saja, sebab apapun yang terlalu diekspos secara besar-besaran hanya akan berakhir sebagai cerita lalu, begitu pula yang terjadi dengan grunge, seperti ucapan Eddie Vedder Pearl Jam di salah satu jurnal musik luar negeri “ When commerce is involved, everything changes “.
Independent nowadays
Eksploitasi media yang berlebihan telah mementahkan semua usaha yang dibangun selama 20 tahun oleh para founder scene ini menjadi sia sia dan murahan, rutinitas yang seharusnya ringan dan fun dijadikan kapital segar oleh para cukong cukong bisnis yang gesit melihat peluang pasar. Akhirnya sub kultur ini berkembang menjadi komoditi bisnis yang memalukan, semuanya menjadi sell out dan tidak ekslusif lagi, prestise yang kita banggakan selama ini pudar oleh rentannya krisis kualitas, segala idiom yang mengandung istilah indie dianggap keren dan cool, bahkan kini bertebaran istilah aduhai yang sangat menjijikan sekali didengarnya seperti indie couple,indie hair ataupun indie kiss, bemunculannya kompetisi yang mengatasnamakan indie competition namun band yang dihasilkannya ternyata tak lain adalah pengisi latar beberapa sinetron malam yang syahdu dan menghanyutkan, tak ayal bernada minor dan melayu menjadi klasifikasi dari independent, tradisi ini kini menjadi konyol dan membusuk, segmentasi yang diperkenalkan pun tidak relevan dengan roots yang sudah ada sejak beberapa puluh tahun yang lalu.
Bukan ini yang diharapkan oleh para founder dari subkultur ini, Alm.Samuel Marudut ( GMR founder ) & Alm Robin Hutagaol ( Sucker Head & Noxa ) tentu tersenyum tipis melihat tendensi yang melenceng jauh dari apa yang mreka cita-citakan dahulu.
Era 2000 sudah jelas adalah sampah dan hype wasted dari gemilangnya tahun 1990, jika ampas ini tidak secepatnya mengalami recycle maka selanjutnya hanya akan menjadi sejarah busuk dan useless.
Hormat dan terima kasih yang sangat dalam saya berikan kepada Seringai,Sore,Mocca,The Milo,Efek Rumah Kaca,The Upstairs dan Polyester Embassy yang telah menyelamatkan scene ini, yang telah memberikan meditasi premier sebagai ancang ancang awal agar scene ini tidak terlalu lama terlelap dan tertidur, bahkan tidak perlu lagi band seperti Mocca harus menciptakan sebuah lagu dari album tebaru mereka “ colours “ yaitu “ Do What You Wanna Do “ tertoreh di dalamnya yang berarti bahwa “ Mocca resah scene ini telah jauh dari roots yang mereka perjuangkan dulu, kecewa dan marah ketika scene ini menjadi terpuruk “ tapi point terpenting dari semua itu adalah bahwa apa yang dikatakan Arina “ Do What You Wanna Do, adalah tetap berkarya dengan arogansi dalam kadar yang tepat dan idealisme dengan takaran yang tepat, karena scene ini adalah kebanggan terhangat bagi siapa saja yang merasa bertanggung jawab dalam part rotasi klasik subkultur ini “.

1 komentar:

  1. tulisannya keren, pak.
    berasa lagi baca zine-zine jaman dulu.
    =D

    BalasHapus